Kuantan Singingi — Dalam upaya memberantas buta aksara Al-Qur’an sekaligus memperkuat pembinaan mental dan spiritual, sembilan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kuantan Tengah melaksanakan kegiatan penyuluhan keagamaan bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lapas Kelas IIB Teluk Kuantan tersebut merupakan bagian dari Program Gempita (Gerakan Masyarakat Pintar Al-Qur’an), yang berfokus pada peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an serta pembinaan kehidupan beragama bagi warga binaan.
Pelaksanaan program ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kuantan Tengah Jabrius Jas, Lasmiadi, Ernita AA, Ernawati, Prihasni, Karnaini, Pitro Hamdani, Ramdanil , dan Ade Juniawan bersama sama menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 60 hingga 70 warga binaan yang mengikuti pembelajaran sebagai santri. Para peserta berasal dari kelompok usia remaja hingga dewasa. Mereka mengikuti kegiatan dengan antusias sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur’an dan meningkatkan pemahaman keagamaan.
Dalam pelaksanaannya, para penyuluh menerapkan metode pembelajaran secara berkelompok. Pendekatan ini memungkinkan proses bimbingan berlangsung lebih terarah dan interaktif, sekaligus membantu penyuluh menyesuaikan materi dengan kemampuan masing-masing peserta.
Materi yang diberikan berfokus pada pendalaman pembelajaran Al-Qur’an dan peningkatan kelancaran membaca. Melalui bimbingan secara bertahap, warga binaan diharapkan semakin mengenal bacaan Al-Qur’an, memperbaiki kemampuan membaca, serta menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam.
Suasana pembelajaran berlangsung khidmat. Para warga binaan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar dan memperdalam ilmu agama. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembinaan yang mendorong mereka untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat keimanan, dan membangun semangat menjadi pribadi yang lebih baik.
Perwakilan KUA Kecamatan Kuantan Tengah melalui tim penyuluh menyampaikan bahwa Program Gempita merupakan bentuk kepedulian Kementerian Agama terhadap peningkatan kualitas kehidupan beragama masyarakat. Pembinaan bagi warga binaan dinilai penting karena setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan, para penyuluh berharap warga binaan tidak hanya memperoleh peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dalam membangun karakter yang lebih baik.
Pihak Lapas Kelas IIB Teluk Kuantan menyambut baik kegiatan tersebut dan memberikan apresiasi kepada para Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kuantan Tengah atas dedikasi mereka dalam memberikan bimbingan rohani kepada warga binaan. Dukungan ini menjadi wujud pentingnya kerja sama antara Kementerian Agama dan lembaga pemasyarakatan dalam memperkuat pembinaan kepribadian serta kehidupan spiritual warga binaan.
Kolaborasi tersebut diharapkan terus terjaga sehingga program penyuluhan keagamaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan lapas bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan juga bagian dari proses membangun kesadaran diri, memperkuat nilai moral, dan menumbuhkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Melalui Program Gempita, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kuantan Tengah menegaskan komitmennya untuk terus hadir memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi kehidupan. Setiap upaya pembinaan diharapkan menjadi jalan untuk menumbuhkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta mampu berkontribusi positif ketika kembali ke tengah masyarakat. YOY.

