Rawat Tradisi, Perkuat NKRI: Seruan Penyuluh Agama Seberida

admin
3 Min Read

Indragiri Hulu – Penyuluh Agama Islam Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Moch. Khoirul Anam, S.Th.I., M.Sy., mengajak umat Islam untuk melestarikan tradisi keilmuan pesantren sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi kultum Zuhur di Masjid Nurul Hidayah, Kelurahan Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida, Rabu (21/10/2026).

Dalam kultum bertema “Inti Resolusi Jihad Kiai dan Santri Menjaga Akar Tradisi untuk NKRI” tersebut, Khoirul Anam menekankan pentingnya peran kiai dan santri dalam menjaga warisan keilmuan Islam, membentuk karakter mulia, serta berkontribusi dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menjelaskan bahwa tradisi pesantren yang diwariskan para ulama terdahulu perlu terus dirawat dan diamalkan. Tradisi tersebut meliputi pengajian kitab kuning, pendalaman ilmu agama, serta khidmah atau pengabdian kepada umat dan masyarakat.

Menurutnya, tradisi keilmuan dan pengabdian merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut juga menjadi bekal bagi kiai dan santri untuk memberikan teladan positif di tengah masyarakat.

Selain menjaga tradisi, kiai dan santri dituntut memiliki karakter luhur agar mampu menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya Generasi Z. Keteladanan dalam akhlak, perilaku, kedisiplinan, dan pengamalan ajaran agama dinilai penting untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

Khoirul Anam juga menyoroti perlunya inovasi dalam bidang dakwah, pendidikan (tarbiyah), dan kewirausahaan (tijarah). Inovasi tersebut diperlukan agar dakwah dan pendidikan Islam tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar yang diwariskan para ulama.

Ia turut mengingatkan pentingnya prinsip “Kun Ibna Zaman”, yang dimaknai sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman secara bijaksana tanpa meninggalkan jati diri dan prinsip-prinsip agama.

“Menjadi bagian dari perkembangan zaman bukan berarti meninggalkan tradisi. Kiai dan santri harus mampu memadukan warisan keilmuan ulama dengan inovasi, sehingga tetap relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam kultum tersebut.

Menutup kultumnya, Khoirul Anam menegaskan bahwa semangat Resolusi Jihad dalam konteks masa kini dapat diwujudkan melalui semangat ta’lim, yakni menuntut dan mengajarkan ilmu, serta khidmah, yaitu pengabdian kepada umat. Kedua nilai tersebut menjadi bagian penting dari kontribusi kiai dan santri dalam merawat persatuan, memperkuat kehidupan beragama, dan menjaga keutuhan NKRI. ASP

Share This Article
Tidak ada komentar