Siak — Kementerian Agama Kabupaten Siak menggelar kegiatan Pembinaan Penghulu dan Jabatan Fungsional Tertentu (JFT) Lainnya dengan tema “Peningkatan Kapasitas SDM Kepenghuluan dan Penyuluh Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan Pelayanan Keagamaan” yang berlangsung pada Rabu (07/10/2026) di Luxe Riverside Hotel Siak Sri Indrapura.
Kegiatan ini dihadiri oleh para penghulu, penyuluh agama Islam, serta berbagai pejabat fungsional di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Siak. Acara menghadirkan empat narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak Ahmad Fuadi, Tokoh Masyarakat Alfedri, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bungaraya Agus Subairi, dan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Siak Harman.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, Ahmad Fuadi, menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia bagi para penghulu dan penyuluh agama Islam agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Menurutnya, pelayanan keagamaan saat ini tidak lagi cukup dilakukan dengan pendekatan konvensional, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Sementara itu, Alfedri, mengingatkan kepada penghulu dan penyuluh akan pentingnya memulai sesuatu dari hal kecil yang berkenaan dengan keagamaan. Sambil mengenang bagaimana dulu dilakukannya perubahan seragam sekolah di lingkunan Kabupaten Siak karena melihat anak usia baligh masih berpakaian tidak menutup aurat, lalu bagaimana pelaksanaan zakat digalakkan, dan pemberantasan buta aksara menjadi program pemerintah, yang kesemuanya membutuhkan Kerjasama yang baik untuk terwujudnya siak yang senantiasa mendapatkan keberkahan.
Pada saat sesi berlangsung, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak dan Kasi Bimas Islam Kemenag Siak, Harman, menjelaskan berbagai kebijakan dan strategi pelayanan keagamaan yang harus diimplementasikan oleh para penghulu dan penyuluh. Menurutnya, transformasi digital merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan kompetensi, integritas, serta kemampuan berkomunikasi yang baik kepada masyarakat.
Menanggapi berbagai kerisauan yang disampaikan oleh para narasumber sebelumnya, Agus Subairi, menawarkan sebuah pendekatan yang menurutnya relevan untuk menjawab tantangan pelayanan keagamaan di era digital, yaitu Holistic Prophetic Method (HPM). Dalam paparannya, Agus Subairi menjelaskan bahwa seorang Penyuluh Agama Islam memiliki empat fungsi utama, yaitu informatif, edukatif, konsultatif, dan advokatif. Keempat fungsi tersebut harus dijalankan secara utuh dengan memperhatikan dimensi intelektual, emosional, sosial, dan spiritual masyarakat.
“Betapapun canggih dan hebatnya Artificial Intelligence, apabila penggunanya tidak memiliki nilai-nilai profetik atau nilai-nilai kenabian, maka hasil yang diperoleh tidak akan membawa kepada kemaslahatan yang sesungguhnya. Teknologi hanyalah alat, sedangkan manusialah yang menentukan arah penggunaannya,” tegas Agus.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Holistic Prophetic Method merupakan pendekatan yang memadukan aspek holistik dan nilai-nilai kenabian dalam setiap proses pelayanan, pembinaan, dan pendampingan masyarakat. Melalui pendekatan ini, penghulu, penyuluh agama Islam, dan jabatan fungsional lainnya tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pembimbing yang mampu menghadirkan keteladanan, empati, spiritualitas, dan solusi yang berorientasi pada kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para penghulu, penyuluh agama Islam, dan jabatan fungsional lainnya di Kabupaten Siak semakin siap menghadapi perubahan zaman, mampu memanfaatkan teknologi secara positif, serta terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang humanis, profesional, dan berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Rmd

