Categories: ArtikelIslam

Meneladani Spirit Qurban: Mengikis Ego dan Melawan Korupsi di Era Modern

ACEH – Perayaan Iduladha bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan kurban, melainkan sebuah momentum besar untuk merefleksikan kedekatan diri kepada Allah SWT dan memperkuat kepedulian sosial. Ibadah kurban, yang secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab qaraba yang berarti “dekat”, menuntut umat Islam untuk menyingkirkan segala penghalang yang menjauhkan diri dari Sang Pencipta.

Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kabupaten Aceh Utara, Tgk Syaiful Bahri, dalam renungannya menekankan bahwa “berhala” modern yang sering menghalangi kedekatan manusia dengan Allah adalah ego, nafsu, cinta kekuasaan, dan cinta harta benda yang berlebihan. Dalam konteks kehidupan saat ini, “Ismail-Ismail” yang harus dikurbankan bukan lagi berupa raga manusia, melainkan simbol-simbol keduniawian seperti jabatan, kedudukan, profesi, hingga mentalitas negatif seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Dimensi Sosial dan Semangat Anti-Korupsi Ibadah kurban memiliki dua dimensi pokok yang tidak dapat dipisahkan: dimensi vertikal sebagai bentuk ketakwaan dan syukur kepada Allah, serta dimensi horizontal sebagai bentuk empati nyata terhadap sesama manusia. Kurban sejatinya adalah instrumen pembebasan manusia dari sifat anti-sosial, terutama sifat serakah yang menjadi akar dari perilaku korup.

Semangat Iduladha dianggap sangat relevan dengan upaya bangsa dalam memerangi tindak pidana korupsi yang kian menggurita. Jika makna kurban benar-benar dihayati, umat Islam akan memiliki benteng spiritual untuk melawan nafsu serakah dan lebih mengedepankan kemaslahatan umat daripada kepentingan pribadi.

Tiada Hidup Tanpa Pengorbanan Mengutip pemikiran yang pernah disampaikan oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, “There is no life without sacrifice and no sacrifice is wasted” (tidak ada hidup tanpa pengorbanan dan tidak ada pengorbanan yang sia-sia). Pesan ini mempertegas bahwa berkurban adalah inti dari kehidupan itu sendiri.

Melalui ibadah kurban, umat diajak untuk selalu melihat “kompas kehidupan” berupa salat dan zikir agar perjalanan hidup tidak salah arah di tengah godaan kenikmatan sesaat. Dengan semangat pengorbanan yang tulus, diharapkan akan tumbuh kesediaan sosial yang lebih luas untuk rela berbagi demi kebaikan bersama di mana pun kita berada.

admin

Recent Posts

Muhammad Ridwan Laksanakan Survei Kerukunan Umat Beragama di Desa Seberang Taluk

KUANTAN SINGINGI– Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sentajo Raya, Muhammad Ridwan, melaksanakan…

6 menit ago

Sentuh Hati Warga Binaan, Penyuluh Agama Tanah Putih Tebarkan Cahaya

Rokan Hilir – Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Tanah Putih, Idrus, S.Pd.I., memberikan bimbingan rohani,…

2 jam ago

Penyuluh Agama Batang Tuaka Bekali Catin, Menikah Adalah Awal Perjalanan Ibadah yang Panjang

Indragiri Hilir – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Batang Tuaka, Muslim, memberikan…

2 jam ago

Perkuat Layanan Rohani Pasien, IPARI Pekanbaru Dukung Kerja Sama Kemenag dan RS Mata PBEC

Pekanbaru – Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Pekanbaru, Buslihat Abdullah, S.Ag., M.H.,…

3 jam ago

Enam Penyuluh Agama Islam Kuansing Dibekali untuk Survei Kerukunan Umat Beragama

KUANTAN SENGINGI — Sebanyak enam Penyuluh Agama Islam mendapatkan pembekalan sebelum turun ke lapangan untuk…

3 jam ago

Ketua IPARI Kuansing Perkuat Pembinaan Keagamaan Warga Lapas Teluk Kuantan

Kuantan Sengingi — Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Kuantan Singingi, Hj. Ernita…

4 jam ago