Categories: Berita

Harlah Ke-3 IPARI: Gerakkan Ekoteologi Melalui Pilah Sampah untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat

JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) yang ke-3 tahun 2026, Pengurus Pusat IPARI menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Pilah Sampah untuk Pelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi: Eduasi dari Penyuluh Agama untuk Umat”. Acara yang digelar secara virtual ini menjadi momentum penting bagi para penyuluh agama untuk menegaskan peran mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian bumi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Gerakan Ekoteologi dan Literasi

Ketua Panitia Harlah ke-3, H. Abdul Hadi, melaporkan bahwa webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan besar bertajuk “IPARI Merawat Negeri: Gerakan Spiritual Literasi dan Ekoteologi”. Selain webinar, IPARI telah melakukan aksi nyata berupa bersih-bersih rumah ibadah, penanaman pohon, serta peluncuran gerakan pemilahan sampah secara serentak di seluruh Indonesia. IPARI juga menyelenggarakan bimbingan teknis penulisan buku antologi kisah inspiratif penyuluh dan gerakan “Penyuluh Agama Berkurban”.

Sampah sebagai Manifestasi Keimanan dan Peluang Ekonomi

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Abu Rahmad, M.Ag, yang membuka acara secara resmi, menekankan bahwa ekoteologi tidak hanya sebatas menanam pohon, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah yang menjadi masalah besar bangsa. Beliau mendorong IPARI untuk menjadi “garda terdepan dalam perang melawan sampah”.

“Kegiatan pilah sampah adalah kegiatan yang sangat produktif secara ekonomi dan merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama dalam menjaga keindahan serta kebersihan lingkungan,” ujar Prof. Abu Rahmad dalam arahannya.

Inspirasi dari Lapangan: Mengubah Limbah Menjadi Berkah

Webinar ini menghadirkan dua narasumber ahli. Feri Soviana, M.Sos, seorang praktisi penyuluh agama, membagikan pengalamannya mendampingi masyarakat marginal di “Kampung Pemulung”, Pondok Labu. Ia berhasil mengedukasi warga untuk mengolah limbah seperti minyak jelantah menjadi lilin dan sabun, serta memanfaatkan hasil pemilahan sampah untuk mendukung pendidikan anak-anak pemulung melalui sekolah paket.

Sementara itu, akademisi dan praktisi pemberdayaan masyarakat, Dr. Tantan Hermansyah, M.Si, menyoroti pentingnya perubahan paradigma masyarakat terhadap sampah. Ia mengajak umat untuk mengubah pola pikir dari “membuang sampah” menjadi “menaruh atau menyimpan sumber daya”. Dr. Tantan juga menjelaskan potensi ekonomi sirkular, seperti budidaya maggot dari sampah organik yang memiliki nilai jual tinggi bagi peternak lele dan unggas.

Komitmen IPARI ke Depan

Sekretaris Umum PP IPARI, Hj. Elvi Andita Afandi, menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab moral dan spiritual seluruh umat beragama. Melalui peringatan Harlah ke-3 ini, IPARI berkomitmen untuk terus berinovasi dan berkolaborasi agar kehadiran penyuluh agama memberikan dampak nyata yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

Acara ditutup dengan harapan besar agar gerakan ekoteologi ini melahirkan aksi nyata di tengah masyarakat demi Indonesia yang lebih bersih, harmonis, dan berdaya secara ekonomi.

Harlah Ke-3 IPARI: Gerakkan Ekoteologi Melalui Pilah Sampah untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat

JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) yang ke-3 tahun 2026, Pengurus Pusat IPARI menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Pilah Sampah untuk Pelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi: Eduasi dari Penyuluh Agama untuk Umat”. Acara yang digelar secara virtual ini menjadi momentum penting bagi para penyuluh agama untuk menegaskan peran mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian bumi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Gerakan Ekoteologi dan Literasi

Ketua Panitia Harlah ke-3, H. Abdul Hadi, melaporkan bahwa webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan besar bertajuk “IPARI Merawat Negeri: Gerakan Spiritual Literasi dan Ekoteologi”. Selain webinar, IPARI telah melakukan aksi nyata berupa bersih-bersih rumah ibadah, penanaman pohon, serta peluncuran gerakan pemilahan sampah secara serentak di seluruh Indonesia. IPARI juga menyelenggarakan bimbingan teknis penulisan buku antologi kisah inspiratif penyuluh dan gerakan “Penyuluh Agama Berkurban”.

Sampah sebagai Manifestasi Keimanan dan Peluang Ekonomi

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Abu Rahmad, M.Ag, yang membuka acara secara resmi, menekankan bahwa ekoteologi tidak hanya sebatas menanam pohon, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah yang menjadi masalah besar bangsa. Beliau mendorong IPARI untuk menjadi “garda terdepan dalam perang melawan sampah”.

“Kegiatan pilah sampah adalah kegiatan yang sangat produktif secara ekonomi dan merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama dalam menjaga keindahan serta kebersihan lingkungan,” ujar Prof. Abu Rahmad dalam arahannya.

Inspirasi dari Lapangan: Mengubah Limbah Menjadi Berkah

Webinar ini menghadirkan dua narasumber ahli. Feri Soviana, M.Sos, seorang praktisi penyuluh agama, membagikan pengalamannya mendampingi masyarakat marginal di “Kampung Pemulung”, Pondok Labu. Ia berhasil mengedukasi warga untuk mengolah limbah seperti minyak jelantah menjadi lilin dan sabun, serta memanfaatkan hasil pemilahan sampah untuk mendukung pendidikan anak-anak pemulung melalui sekolah paket.

Sementara itu, akademisi dan praktisi pemberdayaan masyarakat, Dr. Tantan Hermansyah, M.Si, menyoroti pentingnya perubahan paradigma masyarakat terhadap sampah. Ia mengajak umat untuk mengubah pola pikir dari “membuang sampah” menjadi “menaruh atau menyimpan sumber daya”. Dr. Tantan juga menjelaskan potensi ekonomi sirkular, seperti budidaya maggot dari sampah organik yang memiliki nilai jual tinggi bagi peternak lele dan unggas.

Komitmen IPARI ke Depan

Sekretaris Umum PP IPARI, Hj. Elvi Andita Afandi, menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab moral dan spiritual seluruh umat beragama. Melalui peringatan Harlah ke-3 ini, IPARI berkomitmen untuk terus berinovasi dan berkolaborasi agar kehadiran penyuluh agama memberikan dampak nyata yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

Acara ditutup dengan harapan besar agar gerakan ekoteologi ini melahirkan aksi nyata di tengah masyarakat demi Indonesia yang lebih bersih, harmonis, dan berdaya secara ekonomi.

admin

Recent Posts

Muhammad Ridwan Laksanakan Survei Kerukunan Umat Beragama di Desa Seberang Taluk

KUANTAN SINGINGI– Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sentajo Raya, Muhammad Ridwan, melaksanakan…

8 menit ago

Sentuh Hati Warga Binaan, Penyuluh Agama Tanah Putih Tebarkan Cahaya

Rokan Hilir – Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Tanah Putih, Idrus, S.Pd.I., memberikan bimbingan rohani,…

2 jam ago

Penyuluh Agama Batang Tuaka Bekali Catin, Menikah Adalah Awal Perjalanan Ibadah yang Panjang

Indragiri Hilir – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Batang Tuaka, Muslim, memberikan…

2 jam ago

Perkuat Layanan Rohani Pasien, IPARI Pekanbaru Dukung Kerja Sama Kemenag dan RS Mata PBEC

Pekanbaru – Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Pekanbaru, Buslihat Abdullah, S.Ag., M.H.,…

3 jam ago

Enam Penyuluh Agama Islam Kuansing Dibekali untuk Survei Kerukunan Umat Beragama

KUANTAN SENGINGI — Sebanyak enam Penyuluh Agama Islam mendapatkan pembekalan sebelum turun ke lapangan untuk…

3 jam ago

Ketua IPARI Kuansing Perkuat Pembinaan Keagamaan Warga Lapas Teluk Kuantan

Kuantan Sengingi — Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Kuantan Singingi, Hj. Ernita…

4 jam ago