Kampar — Penyuluh Agama Islam KUA Tapung Hilir kabupaten Kampar, terus mengembangkan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Tidak hanya fokus pada pembinaan keagamaan, Penyuluh Agama kini ikut mendorong gerakan kepedulian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui Program Ekotiologi.
Program tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan lahan kosong yang dipinjamkan oleh salah seorang tokoh masyarakat di Tapung Hilir. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal itu mulai ditata dan ditanami berbagai tanaman produktif, seperti terong ungu, pepaya, cabai dan tanaman pangan lainnya.
Program ekoteologi ini digagas sebagai gerakan sederhana yang menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan, pemanfaatan lahan, ketahanan pangan serta pemberdayaan masyarakat. Ketua penggerak ekoteologi Tapung Hilir, Abu Nazar, mengatakan gerakan tersebut berangkat dari semangat bahwa lahan kosong di tengah masyarakat seharusnya dapat memberikan manfaat.“Kita ingin mengubah cara pandang masyarakat. Lahan kosong jangan hanya dibiarkan. Kalau bisa ditanami, mari kita tanami. Ada terong, cabai, pepaya dan tanaman lainnya yang bisa dikembangkan,” ujar Abu Nazar.
Menurutnya, ekoteologi bukan sekadar kegiatan bercocok tanam. Lebih dari itu, gerakan tersebut diharapkan menjadi sarana membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sekaligus menciptakan sumber pangan yang bisa dimanfaatkan bersama.
Abu Nazar menegaskan, peran Penyuluh Agama Islam tidak semestinya hanya terlihat ketika memberikan ceramah atau menyampaikan materi keagamaan. Penyuluh juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dalam berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, termasuk kepedulian terhadap lingkungan dan pemberdayaan ekonomi umat.“Penyuluh Agama bukan hanya ceramah. Penyuluh harus hadir dan bergerak bersama masyarakat. Ketika ada lahan kosong yang bisa dimanfaatkan, kita dorong menjadi lahan produktif. Ketika ada persoalan lingkungan, kita ikut mencari solusinya,” tegasnya.
Ia berharap gerakan ekoteologi dapat menjadi contoh bahwa kegiatan pemberdayaan tidak harus dimulai dengan modal besar. Cukup dengan lahan yang tersedia, bibit, tenaga, semangat gotong royong dan kemauan untuk bergerak, masyarakat sudah dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Nazar juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada tokoh masyarakat yang telah meminjamkan lahannya untuk digunakan dalam program tersebut. Menurutnya, dukungan masyarakat berupa penyediaan lahan, bibit dan yang ikut bekerja merupakan modal penting dalam membangun gerakan berbasis gotong royong.
Ekotiologi Tapung Hilir diharapkan tidak berhenti pada satu lahan saja. Gerakan tersebut akan terus didorong agar berkembang menjadi budaya masyarakat dalam memanfaatkan lahan secara produktif dan menjaga lingkungan.“Target kita bukan hanya satu kebun. Kita ingin semakin banyak lahan kosong yang dimanfaatkan. Kalau setiap rumah, kelompok masyarakat atau desa memiliki lahan produktif, tentu akan memberikan dampak yang besar,” ujar Abu Nazar.
Selain menghasilkan tanaman pangan, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami pentingnya ketahanan pangan.“Kita tanam hari ini, manfaatnya untuk hari esok. Kita rawat lingkungan, kita jaga pangan, dan kita kuatkan gotong royong masyarakat. Mudah-mudahan Ekotiologi menjadi gerakan kebaikan yang terus tumbuh di Tapung Hilir,” pungkasnya.ANR

