SELATPANJANG — Sebanyak 40 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Selatpanjang mengikuti pengajian rutin di Masjid Al-Ikhlas, Senin (21/9/2026). Kegiatan rutin yang berlangsung pukul 10.00 hingga 11.00 WIB tersebut dibina oleh Ust. Asep Darutahkik, S.H.I., Penyuluh Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebingtinggi.
Dalam pengajian tersebut, Ustaz Asep menyampaikan materi keagamaan yang membahas kandungan Surah An-Nur, khususnya mengenai kehormatan diri, menjaga kesucian masyarakat, larangan perzinaan, serta pentingnya taubat dan memperbaiki diri.
Kegiatan diawali dengan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran ilmu tajwid. Para warga binaan diberikan pemahaman untuk memperbaiki makhraj dan kaidah membaca Al-Qur’an sebelum dilanjutkan dengan kajian kandungan ayat.
Dalam penyampaiannya, Ustaz Asep menjelaskan bahwa zina merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam. Ia juga menerangkan bahwa pembahasan mengenai hukuman dalam fikih jinayah memiliki ketentuan dan kewenangan tersendiri, sehingga pelaksanaannya bukan merupakan tindakan individu maupun masyarakat secara pribadi.
Kajian kemudian diarahkan pada pentingnya taubat dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Warga binaan diingatkan agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT serta berupaya meninggalkan perbuatan dosa melalui taubat yang sungguh-sungguh.
Taubat tersebut diwujudkan dengan menyesali perbuatan, meninggalkan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta memperbanyak amal kebajikan. Warga binaan juga didorong untuk meningkatkan ibadah, seperti melaksanakan salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama.
Pesan utama yang disampaikan dalam pengajian adalah bahwa masa lalu bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk memperbaiki diri. Setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Pembinaan keagamaan secara rutin diharapkan dapat membantu warga binaan meningkatkan pemahaman agama, keimanan, dan ketakwaan, sekaligus menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Pengajian ditutup dengan doa bersama agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

